The Hilarious Stereotypes

There are several interesting stereotypes spoken to me, as below:

– “You’re asian, so how can you be curly?”

Background stereotype: All asians have long black straight hair.

Any extreme statement with “all, always, never, etc” is very prone to be wrong. If only one of the people in Asia has curly hair then the stereotype already breaks. The fact that I (an asian curly haired girl) exist, without even seeing other people already break the statement.

I am naturally curly, and so does many Indonesians from Java and Eastern Indonesia (Ambon, Moluccas, Papuans, etc). Maybe curly is not a majority in Asia, but again it depends in which part of Asia are you in.

– You’re a girl, why did you choose engineering?

Stereotype: Engineering is not for girls.

I was inspired by a book called “What Einstein didn’t know” which was written by a chemical engineer. I like Math, Chemistry and Physics, so Chemical Engineering kind of came naturally to me. Also, because engineers are cool, right?

I understand that engineering is not popular for girls maybe because it deals with a non-living object, not related directly with people. Engineering branch like environmental, chemical and biomedical engineering has more girls than mechanical engineering because those engineering branch is more social and directly helping people. There is a project to emphasize socially beneficial aspects of engineering to make engineering more interesting for girls.

Right now I am working in process simulator software to design and optimize chemical process.  Am I helping people? Maybe not :P, but I like to think yes, at least I am solving problem of the the engineers using our software, and also pointing problem for the developers to improve the software from the user (engineers) view point. Either way the chemical and physical process modeling in the software is really interesting, and I am happy to be part of it.

– I thought asian never cheat in an exam.

Background stereotype: Asians never cheat/do bad things.

Well, thank you for that :), it means when I cheat people will not suspect because I am asian. Unfortunately I must say, Asians are not saints, just like any other race/ethnicity are not saints. Besides, cheating without getting caught up IS a skill 😛

To be fair, before coming to Girona, I also had stereotypes about Spanish people in general:

– People would be wearing matador clothes for man and flamenco dresses for woman, in the street as normal daily clothing, LOL 😛

– The boys would be playing guitar, the women dance flamenco.

– The man will be with big moustache like Salvador Dali, every men look like Antonio Banderas.

– The woman will be with long black wavy hair, red lipstick, and every woman look like Penelope Cruz.

A huge dissapointment for me when people just look, well, normal. 😛

Stereotype is annoying when it is wrong because it leaves people without/with less option. We cannot avoid to not have stereotypes though, our brain is limited and naturally it uses stereotype and generalization on things we don’t know much about. Just realizing that we are prone to mistakes and so we need to remain open on new information. Think of stereotypes as a hypothesis that with an addition of better data, the stereotype hypothesis can be proved right or wrong.

I’d like to end the post with one the best moments in Lord of The Rings. 🙂

tumblr_ltq5lj615O1qcw8mro1_500

” I am no man”, said Eowyn.

 

 

 

 

Iklan

Trik Rumah Tangga Barcelona :P

Bermula dari bulan pertama setelah menikah, ibu saya kirim pesan:

“Gimana, sekarang capek ya?”

“Capek ngapain ya?” (jadi mikir kemana2 ni aye :P)

“Capek kan mesti kerja, trus ngelipet baju suami, nyuci, nyapu, ngepel.”

Hmm…

Beruntungnya karena saya dan suami terbiasa hidup sendiri sebelum menikah, jadi dua-duanya bisa bertahan hidup tanpa bantuan pihak lain. Misalnya, suami saya lebih suka makan roti (pa amb tomaquet) khas Catalonia untuk makan malam (dan makan pagi), dan tidak mewajibkan saya masak. Dan, entah rata-rata orang Eropa seperti ini atau tidak, tapi suami saya ngga ribet makannya, ibaratnya digorengin telur aja mau. Saya biasanya bikin salad (amanida) supaya kebutuhan serat dan gizi terpenuhi. (bahasanya klinis abis ye)

Saya masak karena inisiatif saya sendiri dan juga kalau saya kangen makanan Indonesia, misal rendang, terong balado, sayur lodeh, babi kecap, capcay, ikan asin dll. (jadi laper ini, warteg mana warteg). Saya sebenernya kadang males masak makanan indonesia, soalnya butuh waktu lama. Jadinya sebagian besar ya masak makanan yang praktis-praktis saja 😛

Selain itu, saya juga terbantu dengan hal-hal berikut ini:

  1. mesin pencuci piring

Ini sangat membantu kehidupan rumah tangga kami. Awalnya saya nggak yakin dengan pencuci piring, karena menurut saya buang2 listrik. Tapi sebenarnya nggak juga , karena ternyata energi dan air yang digunakan dengan mesin pencuci piring lebih kecil dari mencuci sendiri (sumber). Mungkin karena mesin pencuci piring ini dimuati penuh, air yang sama disirkulasi berkali-kali, jadinya jatuhnya lebih murah.

GEDishwasher

“Asisten cuci piring” di rumah, diambil dari sini

2. Asisten pembersih rumah (Senyora neteja)

Ini juga atas inisiatif suami untuk mempekerjakan asisten pembersih rumah, bayarannya lumayan mahal (10 Euro per jam), kami menggunakan jasa la senyora selama 2.5 jam per minggu. Walaupun disini saya bilang senyora, kadang juga bisa bapak-bapak ya, jadinya senyor neteja, hehe.

Awalnya, biasa saya kan pengiritan, jadi nggak rela gitu bayar asisten. Setelah merasakan ‘nikmatnya’ ada asisten yang membantu, langsung menerima dengan lapang dada (halah). Sekarang tiap pulang kerja hari jumat rumah sudah rapi layaknya hotel, hehe.

senyora de la neteja

Senyor(a) Neteja yang membantu-bantu

3. Makanan simpel

Karena masih berdua saja, jadi nyantai sih untuk makanan. Kalau nggak ada makanan, bisa beli ayam panggang, bisa oven pizza dari supermarket (kira-kira 1.5-3 euro per pizza), bisa juga makan di luar :).

Saya dihadiahi ibu mertua juga ni, semacam tempat/cetakan silikon untuk memasak di microwave.  Nanti wadahnya ditutup, kemudian dimasukkan ke microwave d, Masakannya jadi pakai uap gitu. Di bawah ini penampakan salmon dengan brokoli, tomat, sebelum dimasukkan ke microwave. Foto sesudahnya nggak ada, karena langsung disikat makanannya. 😛

20170621_193724

Papillote alias masak dengan uap di microwave (abaikan jahe di sebelahnya)

Masak pakai wadah papillote ini enaknya simpel dan bisa ditinggal, tiinggal masukin aja ke microwave, beberapa menit kemudian masak d, hore! Triknya mesti tahu kira-kira berapa lama makanan itu harus dimasak. Misal untuk ikan dan sayuran di atas butuh sekitar 7 menit, dada ayam potong kecil sekitar 8 menit.

4. Baju “low maintenance”

Ini istilah bikinan sendiri ya, artinya baju yang tidak perlu disetrika untuk terlihat rapi, hehehe. Karena oh karena, saya malas nyetrika! Baju saya si 95% nggak perlu disetrika, yang penting bersih dan terlipat rapi saja :). Baju suami pun jarang yang butuh disetrika.

5. Bekal makan

Hampir tiap hari saya bawa bekal masakan dari rumah, tapi kadang-kadang saya juga males/capek masak di rumah, jadi beli makan di luar d. Suami memperkenalkan tempat makan yang murah meriah, namanya Nostrum. Enggak saya nggak dibayar Nostrum koq, walaupun pengennya si gitu. 😛

nostrum-Bilbao_3.png

Kira-kira begini penampakan Nostrum

Nostrum isinya makanan-makanan jadi yang ditaruh di kulkas seperti diatas. Pembeli tinggal datang, memilih mau makanan apa, ambil, bayar, kemudian angetin makanan di microwave (optional). Bisa makan di restorannya, bisa dibawa ke kantor atau ke rumah. Kalau kita anggota (soci),  harganya diskon 50% jadi lumayan murah. Misal satu piring pasta/spagheti dari harga 2 euro bisa jadi 1 euro, lumayan kan. Disini 1 euro kopi juga belum dapat, standar kopi 1.2-1.5 euro.

Karena kantor saya ada pantrynya, lengkap dengan microwave, kulkas, mesin kopi dll, jadi biasanya saya bawa untuk bungkus saja, makan di kantor.

Begitulah trik-trik saya di Barcelona. Semoga membantu ya. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

First Wire Change

Dua minggu yang lalu, digantilah kawat gigi bagian atas dari NiTi yang tipis dan elastis menjadi kawat yang lebih tebal (entah apa materialnya). Selama ini pakai kawat gigi itu nggak begitu sakit ya, sampai bingung koq ga sakit-sakit ya, hehe. Ternyata pas ganti kawat jadi yang tebal ini, olala sakit donk, sampai sekitar 3 hari-an nyeri dan nggak bisa makan dengan leluasa; setiap ngunyah, sambil menahan sakit, huhu.

Untung sekarang sudah berlalu :). Dan kabar baiknya, gigi gw langsung jadi rata, dengan perubahan yang drastis! Ini perbandingan dari April 2017 (5 bulan) ke Juni 2017 (7 bulan).

April 2017 vs Juni 2017

April 2017 vs Juni 2017

Sesuatu banget ini perubahan gigi gw, amazing! Gigi gw yang tadinya tonggos, jadi bisa ditarik ke dalam. Dan gw juga notice, gigi depan gw ini terlihat lebih kecil, karena memang di-stripping (IPR) pinggir-pinggirnya untuk bisa mendapatkan ruang untuk semua gigi. Selain gigi depan, gigi yang lain juga ada lho yang distripping. Tau nggak yang mana, kalo nggak tau bagus d, berarti alami banget hasil stripping dental-nya. 🙂

Dokter ortodonsi gw juga sangat happy melihat perkembangan gigi gw, dia bangga dengan “hasil karya”-nya dia kali ya, hehe.

Dan kadang-kadang gw lupa betapa berantakannya gigi gw dulu, hihi. Jadi disini gw tampilkan perubahan dari Nov 2016 (2 minggu) dan Juni 2017 (7 bulan). Keren yak perubahannya, hahaha. Magic banget ini behel. 😀

Nov 2016 vs Juni 2017

Nov 2016 vs Juni 2017

Sangat-sangat worth it ini pakai kawat gigi, tau gitu dari dulu!  Happy braces! 🙂

IPR dan Karet Elastic

Nggak kerasa udah hampir lima bulan ber-behel ria! Dan berhubung gw males update :P, jadi dua ‘tema besar’ selama 3 bulan terakhir dijadikan satu : IPR (Interproximal Reduction) dan Karet Elastik.

Interproximal Reduction (IPR)

Apa itu IPR? IPR adalah pengurangan enamel gigi untuk mengurangi kerapatan (crowding) gigi dan memperbaiki kontak antar gigi. Dalam kasus gw, IPR dibutuhkan karena tidak ada gigi gw yang dicabut (hore!), tapi di sisi lain tetap dibutuhkan ruang tambahan menggunakan IPR.

IPR bisa mendapatkan sekitar 0.5mm sampai 0.75mm dari setiap sisi gigi. Selain itu, gigi depan gw (incisor) itu bentuknya menyerupai segitiga sehingga kontak antar gigi kurang rapat (ada celah). Gigi tersebut butuh dipotong/dikikir sedikit dengan IPR supaya kontak antar gigi lebih baik.

Yang bikin horor, waktu janjian dengan dokter itu gw happy2 aja, kirain cuma ganti kawat, karet, senang2 lah… Eh ternyata lihat alat semacam kikir kuku, yang adalah dental strip (!). Dan kemudian si dental strip dipasang di gagang, siap untuk memotong gigi, hiks. Prosedur IPR itu sangat membuat ngilu, terutama suara dan getarannya. Aduuuhh, gak lagi lagi d!! Kapok!

Penampakannya kira-kira seperti di bawah ini, ini gambarnya diambil dari internet, ini bukan gw ya. 🙂

2-Ortho-Strips-Opener-Dr.-Garino-Torino-Italy3-1024x681

IPR menggunakan dental strip

Gw berharap kalian yang akan menjalani proses ortodonsia, tidak perlu menjalani IPR. Tapi kalo kalian sial seperti gw, haha, yah seengganya kalian tahu apa itu IPR..

Karet Elastik

Karet elastik antar lengkung gigi berfungsi untuk memperbaiki gigitan (bite). Gw mendapatkan karet elastik setelah 4 bulan. Ini karet elastik yang gw dapet, gambar Parrot (burung kakatua).

20170414_191230

Karet Elastik Parrot

Karet ini dipakainya antar lengkung gigi, dalam kasus gw seperti ini.

20170410_135427

Karet Gigi

Nggak sakit sama sekali, cuma awal2 15 menit pertama aja berasa ketarik, berikutnya lupa sudah, hehe. Kata ibu teknisi gigi, karet ini dipakainya setiap saat kecuali pas makan dan pas tidur, cuma gw pake-pake aja pas tidur, ceritanya biar giginya cepat rapi, hihi.

Satu lagi, pernah gw kelupaan lepas karet gigi pas makan, alhasil karetnya ketelan. Ketelan, saudara-saudara, horor kan, gimana kabar itu karet dalam perut gw??? Untung gw google, ternyata aman-aman aja, dan gw bukan orang pertama yang nelen karet, haha. #bahagia

Begini penampakan gigi gw perbandingan 2.5 bulan vs 5 bulan.

 

Perbandingan 2.5 bulan vs 5 bulan.png

2.5 bulan vs 5 bulan

Ketika 2.5 bulan, gigi depan yang ditandai garis hijau belum diikutkan dalam kawat behel, gigi tersebut letaknya di belakang banget jadi susah diikutkan waktu itu. Kemudian, dengan kekuatan bulan, dokter gigi gw berhasil mengikutkan gigi tersebut. Jadilah gigi itu bisa ikutan rapi lurus seperti penampakan 5 bulan.

Kesimpulan sejauh ini, pakai behel worth it banget,  nggak nyesel sama sekali. Kalaupun ada yang nyesel, mikirnya kenapa nggak dari dulu ya gw pasang behel 😉

 

 

 

 

To marry or not to marry

I am Indonesian, and whether I want it or not, Indonesian perspective colored my vision. And perhaps because Indonesia with its huge population (240 million and growing), and 5.1 average birth rate per woman (now at 2.3 approx.), not to mention the famous Javanese philosophy “the more child you have the more fortune you will earn” , getting married and having babies are deeply ingrained in every Indonesian mind.

Indonesian perspective to get married/have baby is so ingrained that sometimes people do not question, and simply “follow the society rule”. Does getting married/having baby will make you happy? Because many times happiness is a state of mind, if you are unhappy being single, most likely you will be unhappy being in relationship/married. Also, one needs to be perfectly aware of the rationale of getting married and the consequences that one will take. Don’t get married/have children just because of society/your parents/your aunts asked, but do it because you want it. Because it is you who will face the marriage anyway, right? 🙂 And some Indonesians do resist the marriage pressure, like this one.

Things got interesting the time I land my feet on Europe (Barcelona). Europe with its “living together commitment equals marriage”, “married at early 20 is too young, you need to enjoy your life beforehand”, “married/having children = not being able to enjoy life anymore” and “women can be perfecty happy without men/babies etc”. The logical result is this low birthrate from Europeans.

Both perspectives are different, which one is better? In economy principle you need to consider all options along with its cost and benefits. Every person is unique, anyone can choose which suits them better. Anyone can be living happily single, child free and traveling the whole world, while others can be happily getting married as young as 24 years old and creating different cakes for their children (or puppies!).

And most importantly, never judge other people for the option that they take that does not correspond with our choice. I believe choosing what you want to do with your life is sacred and a basic human right. Choose well and respect others’ choice. 🙂

Perkembangan gigi terlihat :)

Sesudah behel dipasang hobi gw bertambah: ngaca untuk mengecek perkembangan behel setiap bangun pagi. Sayangnya, ngga ada perubahan berarti,hiks. Jadi akhirnya gw lepaskan hobi baru gw

Tapi ternyata oh ternyata, seminggu yang lalu gw berhasil perkembangan gigi gw, yeay! 😀

minggu-1-bulan-2

Perubahan gigi di bulan kedua

Jadi gigi depan gw yang tadinya agak tonggos, jadi agak kurang tonggos, ga kaya kelinci lagi d gw (walopun kelinci yg imut *wink*). Dua gigi depan  (insisivus lateralis) pelan-pelan keluar dari persembunyainnya, dan agak maju jadi selevel dengan gigi seri tengah. Sementara gigi seri tengah gw kayanya agak mundur, atau itu perasaan gw doank ya. 😛

Ohya gigi yang bawah juga ada perubahan lho, kalo dilihat gigi yang ada garis bawah merah, dia udah maju ke depan dan meratakan diri dengan teman-temannya (entah kapan dia majunya). Gigi premolar pertama (garis bawah hijau) tadinya mau dicabut (makanya nggak dikasih bracket), tapi kemudian nggak jadi dicabut (hore!) dan sekarang diikutsertakan dalam behel.

Perubahan lain adalah lengkung gigi gw bertambah lebar jadi kalau senyum kelihatan banyak banget giginya, sampe mikir, “Ini gigi gw banyak amat ya.”, haha. Gara-gara selama ini giginya ketutupan, jadi ga gitu keliatan banyak.

Buat teman-teman yang masih mikir-mikr mau pakai behel atau engga, takut ini itu, saran gw si pasang aja! Ternyata nggak sesakit dan nggak setidak nyaman yang gw pikirkan :). Kalau budget udah ada, maju terus pantang mundur d. Happy braces!

 

 

 

Aktivitas Sosial dengan Behel

Beberapa orang mungkin bertanya-tanya ya, apakah memakai behel mempengaruhi aktivitas sosial, misalnya ketemu temen, makan-makan dll. Well, jawabannya, bisa iya bisa enggak, tergantung gimana menyikapinya.

Dont’s

Pakai behel itu gigi nggak bisa menggigit dan menyobek makanan, jadi makanan-makanan seperti pizza, roti isi baguette, hamburger harus dipotong dulu pakai pisau makan. Daging yang keras-keras kaya ribs begitu juga gigi sakit untuk dipaksa makan itu.

Yang manis, keras lengket kaya permen, nougat, dodol, permen coklat, permen chewy, itu (sayangnya) ga bisa.

Do’s

Selain itu, makanan yang lembut-lembut kaya sushi, nasi, salmon, seafood, kentang, ubi, pasta bolognesa, lasagna semua bisa dimakan, hore! 🙂 Contohnya hari kedua pakai behel gw keluar makan sushi, nasi, mie, semua bisa dimakan, aman  :).

20161118_192022

Sushi, nasi, mie, nyam! 🙂

Makanan keras kaya kerupuk dan keripik masih bisa dimakan, tapi mesti dipotong kecil, dan ditaruh langsung ke geraham. Ini ‘teknik’ tingkat tinggi, jadi kalau mau aman mendingan dihindari dulu minggu pertama.

Kekurangan pakai behel dalam aktivitas sosial adalah makanan gampang nyelip (!) di sela-sela behel, huhu. Jadi kemana-mana gw bawa Oral Irrigator/Water Flosser sekarang.

Apa itu Oral Irrigator?  Ini kata WIkipedia:

An oral irrigator (also called a dental water jet) is a home dental care device that uses a stream of pulsating water to remove plaque and food debris between teeth and below the gumline, and improve gingival health.

Intinya semacam alat untuk membersihkan gigi dan gusi menggunakan air bertekanan. Alat ini, adalah penyelamat dunia, hehe, soalnya oke banget dalam membersihkan gigi. Setiap kali pakai ini, sisa-sisa makanan yang tersembunyi di sela-sela behel bisa keluar dan gigi berbehel bersih d. 🙂

Merk yang paling terkenal namanya Waterpik, tapi berhubung gw gak rela bayar mahal, jadi gw ambil merk yang lebih murah dan paling penting: portable! Inilah merk yang gw beli: Broadcare, merknya si ngga terkenal ya bok, tapi berfungsi dengan baik :).

20161119_202951-1

Oral Irrigator Broadcare

Kalau untuk minum, kalau minum sesuatu yang berwarna misal wine, kopi, usahakan minum air putih, kumur-kumur air putih sesudahnya. Behel Damon Clear yang gw pakai sejauh ini nggak ternoda si (atau gw aja yg nggak merhatiin :P), jadi minum apapun masih oke. Minum softdrink sebisa mungkin dibatasi, karena softdrink bersifat asam , sama jus jeruk juga asam, jadi kalau kebanyakan bisa mengikis enamel gigi. Minuman apa donk yang basa? Susu itu basa, mengandung kalsium lagi jadi bagus untuk gigi :), minum air putih sehabis minum yang asam juga oke untuk menetralkan pH mulut.

Ok, gitu dulu dari gw, ananti kalau ada postingan menarik atau ada perubahan yang drasti dari gigi gw, akan gw lanjutkan. Thanks for reading, happy braces. 🙂